Sejak auranya menyentuhku...
memanggilku untuk sejenak menjadikannya penawar hati yang sedikit kelabu..
aku tak sanggup berkata apapun ketika itu terjadi lagi untukku...
sesak, takut, senang (?) lagi dan lagi menjadi-jadi.
kuperintahkan akalku membuangnya setelah kutuliskan catatan ini,
agar tak lagi murung duniaku...
Tetap selalu melangkah,
meskipun jejak akan kutinggalkan..
entah untuk apa dan siapa.
adalah sebuah rangkaian catatan-catatan kehidupan yang lahir dari mata pena nalar anak manusia...
Selasa, Juni 30, 2009
TELEVISI
Hey!! apa yang sedang kamu lakukan?
kamu bertingkah lagi...
dasar tak punya ideologi!
kalaupun ada, ideologi apa??!!
pasar???
memangnya pasar itu sebuah ideologi?
pasar pun memiliki pilihan ideologi..
setidaknya begitu.
entahlah...
Aku sudah muak!!
menjengkelkan..
setiap hari begitu terus.
adakah yang bisa menghentikanmu??
jawab aku!!!
Siapa juga yang bisa menghentikan kamu...
mereka sudah terbuai
katanya oleh kesenangan tiap saat
kamu begitu meraja
disini...
Subuh...
sangat religius
Pagi...
lelucon bangsa
Siang...
drama negeri
Sore...
kombinasi melankolis dan derita
Malam...
kompleks
Tengah malam...
cabul
Hendak kemana kita??
terserah..
pilihannya ada banyak
tergantung selera hegemonisnya yang mana.
kamu bertingkah lagi...
dasar tak punya ideologi!
kalaupun ada, ideologi apa??!!
pasar???
memangnya pasar itu sebuah ideologi?
pasar pun memiliki pilihan ideologi..
setidaknya begitu.
entahlah...
Aku sudah muak!!
menjengkelkan..
setiap hari begitu terus.
adakah yang bisa menghentikanmu??
jawab aku!!!
Siapa juga yang bisa menghentikan kamu...
mereka sudah terbuai
katanya oleh kesenangan tiap saat
kamu begitu meraja
disini...
Subuh...
sangat religius
Pagi...
lelucon bangsa
Siang...
drama negeri
Sore...
kombinasi melankolis dan derita
Malam...
kompleks
Tengah malam...
cabul
Hendak kemana kita??
terserah..
pilihannya ada banyak
tergantung selera hegemonisnya yang mana.
Disini ku terluka!
Memahami makna,
semua yang terlanjur merapuh
Kuingin kembali,
mencoba meraih
namun ku tak temukannya...
Menapaki jejak,
berjalan dikeruhnya ruang
terus kuhadapi,
walau tak terperi
bekas yang masih mendera...
Harus ku akui disini ku terluka!
Harus ku akui kau terlalu indah!
semua yang terlanjur merapuh
Kuingin kembali,
mencoba meraih
namun ku tak temukannya...
Menapaki jejak,
berjalan dikeruhnya ruang
terus kuhadapi,
walau tak terperi
bekas yang masih mendera...
Harus ku akui disini ku terluka!
Harus ku akui kau terlalu indah!
Untuk usia yang tak lagi muda
Kini ada banyak pertanyaan,
seberapa jauh aku sudah melangkah..??
apa yang sempat di inginkan oleh hati pria kecil sepertiku?
pada sedikit usianya yang beranjak menanjak!
aku akan mencari tahu...
Bisikan pertanyaan itu kembali keluar memekiktajam di telingaku
mencari jawabnya yang entah ada
apa yang terpikirkan olehku pun aku tak tahu
setahuku, ada banyak pertanyaan kini...
Pertanyaan itu tentang kebahagiaan...
tentang kehidupan,
dan tentang makna...
klise, namun berarti
klasik, namun begitu penting
dan belum ada yang benar-benar tahu jawabannya.
Semuanya tentang ada apa dengan kebahagiaan manusia
ada apa dengan kehidupanku saat ini
ada apa dengan keadaan sekitarku
keadaan itu jika tak keberatan kusebut "masyarakat"!
Apakah mereka kesepian tanpa aku??
tidak!!!
siapa bilang??
meski tanpa aku, mereka akan tetap berjalan tanpa henti untuk memperhatikan dan menungguku
memangnya mereka angkutan kota yang ketika aku menahannya dengan membuat isyarat tangan lalu mereka akan berhenti begitu saja??
tidak!!!
siapa aku?
tidak seperti itu...
mereka akan tetap berjalan dengan kecongkakannya tanpa harus mempedulikanku!
Lalu, dimana harus kutemui kebahagiaan itu?
kebahagiaan yang katanya akan tampak nyata ketika di bagi dengan orang lain (?)
jika tidak di bagi, namanya apa??
Aku tak tahu....
Aku tak tahu apa lagi yang harus kulakukan
bersikap apatis??
individualistis??
bisa???
Menjadi diri sendiri pun sangat sulit
sebab ada sesuatu diluar diriku yang memaksaku untuk keluar dan menjadi inilah, itulah, dan sebagainya..
bahkan kadang-kadang aku menjadi sangat naif
bahwa semua ini sudah dikendalikan oleh takdir
jika begitu, kebahagiaanpun adalah takdir
dan sudah ditentukan bagiku.
Tapi ahh...
jauhkan aku dari pemikiran seperti itu!!
aku dapat menemukan kebahagiaan dengan caraku sendiri
dengan bantuan tubuhku
tubuh yang masih sanggup mencari...
mencari arti, makna, dan bila perlu memaksa keajaiban datang!!
dan memberiku sedikit kebahagiaan.
(Kupersembahkan untuk UMUR-ku...)
4 Maret 2009
seberapa jauh aku sudah melangkah..??
apa yang sempat di inginkan oleh hati pria kecil sepertiku?
pada sedikit usianya yang beranjak menanjak!
aku akan mencari tahu...
Bisikan pertanyaan itu kembali keluar memekiktajam di telingaku
mencari jawabnya yang entah ada
apa yang terpikirkan olehku pun aku tak tahu
setahuku, ada banyak pertanyaan kini...
Pertanyaan itu tentang kebahagiaan...
tentang kehidupan,
dan tentang makna...
klise, namun berarti
klasik, namun begitu penting
dan belum ada yang benar-benar tahu jawabannya.
Semuanya tentang ada apa dengan kebahagiaan manusia
ada apa dengan kehidupanku saat ini
ada apa dengan keadaan sekitarku
keadaan itu jika tak keberatan kusebut "masyarakat"!
Apakah mereka kesepian tanpa aku??
tidak!!!
siapa bilang??
meski tanpa aku, mereka akan tetap berjalan tanpa henti untuk memperhatikan dan menungguku
memangnya mereka angkutan kota yang ketika aku menahannya dengan membuat isyarat tangan lalu mereka akan berhenti begitu saja??
tidak!!!
siapa aku?
tidak seperti itu...
mereka akan tetap berjalan dengan kecongkakannya tanpa harus mempedulikanku!
Lalu, dimana harus kutemui kebahagiaan itu?
kebahagiaan yang katanya akan tampak nyata ketika di bagi dengan orang lain (?)
jika tidak di bagi, namanya apa??
Aku tak tahu....
Aku tak tahu apa lagi yang harus kulakukan
bersikap apatis??
individualistis??
bisa???
Menjadi diri sendiri pun sangat sulit
sebab ada sesuatu diluar diriku yang memaksaku untuk keluar dan menjadi inilah, itulah, dan sebagainya..
bahkan kadang-kadang aku menjadi sangat naif
bahwa semua ini sudah dikendalikan oleh takdir
jika begitu, kebahagiaanpun adalah takdir
dan sudah ditentukan bagiku.
Tapi ahh...
jauhkan aku dari pemikiran seperti itu!!
aku dapat menemukan kebahagiaan dengan caraku sendiri
dengan bantuan tubuhku
tubuh yang masih sanggup mencari...
mencari arti, makna, dan bila perlu memaksa keajaiban datang!!
dan memberiku sedikit kebahagiaan.
(Kupersembahkan untuk UMUR-ku...)
4 Maret 2009
Syair-syair Munajat
Pernah pula kau menenggelamkanku dalam lubang yang dalam,
hingga aku tak tahu harus berbuat apa...
serius! kamu serius,
itu benar-benar terjadi padaku.
Kini semuanya dapat terlihat jelas,
aku dan kamu seperti itu....
"ANTARA KUNCI DAN PINTU (I)"
Jika kau memintaku untuk menyimpannya,
aku bersedia melakukannya,
biar tetap kusimpan sampai tiba masanya,
meskipun lama...
Aku juga tak pernah berfikir untuk meraihnya,
apalagi harus mencobanya,
sementara dia pun masih begitu,
tertutup rapat berharap ada yang membukanya.
Ketakutan mungkin pula ikut mendera,
atau perasaan lain yang berusaha mencengkeramku,
untuk tetap tinggal diam tak berbuat,
jangan-jangan ketika ku buka, tak ada kamu disana...
"TERSERAHLAH"
Aku baik-baik saja sebelum kau ucapkan kata itu,
bahkan lebih baik dari hari kemarin,
ketika sedih dan sepi kembali menyerang dari segala sisi,
aku kira kamu tahu itu.
hingga aku tak tahu harus berbuat apa...
serius! kamu serius,
itu benar-benar terjadi padaku.
Kini semuanya dapat terlihat jelas,
aku dan kamu seperti itu....
"ANTARA KUNCI DAN PINTU (I)"
Jika kau memintaku untuk menyimpannya,
aku bersedia melakukannya,
biar tetap kusimpan sampai tiba masanya,
meskipun lama...
Aku juga tak pernah berfikir untuk meraihnya,
apalagi harus mencobanya,
sementara dia pun masih begitu,
tertutup rapat berharap ada yang membukanya.
Ketakutan mungkin pula ikut mendera,
atau perasaan lain yang berusaha mencengkeramku,
untuk tetap tinggal diam tak berbuat,
jangan-jangan ketika ku buka, tak ada kamu disana...
"TERSERAHLAH"
Aku baik-baik saja sebelum kau ucapkan kata itu,
bahkan lebih baik dari hari kemarin,
ketika sedih dan sepi kembali menyerang dari segala sisi,
aku kira kamu tahu itu.
KALIURANG
Kusempatkan mengintip peraduan siang,
dalam cahaya yang masih teramat remang,
siapa tahu esok tak bisa ku dapati seonggok terang,
padahal aku masih memuja langit perawan kaliurang,
tepat di kaki bukit plewang.
(Pesan Rinduku untuk Jogjakarta)
dalam cahaya yang masih teramat remang,
siapa tahu esok tak bisa ku dapati seonggok terang,
padahal aku masih memuja langit perawan kaliurang,
tepat di kaki bukit plewang.
(Pesan Rinduku untuk Jogjakarta)
Kesepianmu
Aku yang tak terbiasa menemani sepimu,
terpana dari kejauhan menatap kosong reruntuhan asa,
seandainya aku bisa pun tak akan kulakukan,
jangan pernah kau tanyakan padaku,
karena aku tak ingin memiliki sepimu itu...
terpana dari kejauhan menatap kosong reruntuhan asa,
seandainya aku bisa pun tak akan kulakukan,
jangan pernah kau tanyakan padaku,
karena aku tak ingin memiliki sepimu itu...
Aku ingin!
Ingin ku lumat habis kedengkian yang menggerayangi jiwamu,
ingin ku petikkan dawai melodi gitarku untuk kesunyianmu,
ingin ku hiasi kesendirianmu dengan tawa dan nyanyianku,
ingin ku bakar keangkuhan yang masih membelenggu batinmu,
ingin ku ludahi kau dengan puisi-puisi bijakku,
agar kau tahu, aku ada bersamamu...
ingin ku petikkan dawai melodi gitarku untuk kesunyianmu,
ingin ku hiasi kesendirianmu dengan tawa dan nyanyianku,
ingin ku bakar keangkuhan yang masih membelenggu batinmu,
ingin ku ludahi kau dengan puisi-puisi bijakku,
agar kau tahu, aku ada bersamamu...
Bukan itu maksudku...
Pada keterasinganku yang mulai pekat,
sebelum belulangku merapuh,
jantungku tak kuat lagi memompa darahku,
dan tubuhku pun harus rebah di sengat waktu,
akan kukatakan dengan suara lantang,
"...bukan itu maksudku..."
kita sama-sama tahu,
tak ada yang tak lekang oleh waktu.
sebelum belulangku merapuh,
jantungku tak kuat lagi memompa darahku,
dan tubuhku pun harus rebah di sengat waktu,
akan kukatakan dengan suara lantang,
"...bukan itu maksudku..."
kita sama-sama tahu,
tak ada yang tak lekang oleh waktu.
Antara sapu tanganku dan Bunga mawar
Jika sapu tangan ini tak cukup untuk membendung tangis yang mengair dilingkar wajahmu,
maka izinkan aku untuk memetik bunga mawar agar kau dapat tersenyum kembali,
tahukah kau bahwa itu berhasil karena aku pernah mencobanya pada perempuan lain.
maka izinkan aku untuk memetik bunga mawar agar kau dapat tersenyum kembali,
tahukah kau bahwa itu berhasil karena aku pernah mencobanya pada perempuan lain.
PESAN (II)
Kau kirimkan aku pesan singkat malam itu bertintakan keraguan:
"apakah kau benar-benar mencintaiku?".
Aku coba membalasnya dengan tinta warna kepastian bertuliskan:
"kau yang tak benar-benar mencintaiku..".
Namun sebelum akhirnya sampai padamu, seekor burung kecil lebih dulu mencurinya dan baru menyampaikan pesan itu kepadamu ketika kau telah lelah menunggu jawabku...
"apakah kau benar-benar mencintaiku?".
Aku coba membalasnya dengan tinta warna kepastian bertuliskan:
"kau yang tak benar-benar mencintaiku..".
Namun sebelum akhirnya sampai padamu, seekor burung kecil lebih dulu mencurinya dan baru menyampaikan pesan itu kepadamu ketika kau telah lelah menunggu jawabku...
Pergilah...!!
Aku tak peduli dengan semua kelembutan cinta yang terberi,
entah darimu atau dariku sama saja!
bagiku itu adalah penipuan yang terkeji,
yang terbungkus oleh pengorbanan semu.
Berapa harga yang harus ku bayar untuk menepismu??
akan aku lakukan!!
jika kau tak mau pergi,
beritahu aku cara membunuhmu agar kau tak tersakiti.
entah darimu atau dariku sama saja!
bagiku itu adalah penipuan yang terkeji,
yang terbungkus oleh pengorbanan semu.
Berapa harga yang harus ku bayar untuk menepismu??
akan aku lakukan!!
jika kau tak mau pergi,
beritahu aku cara membunuhmu agar kau tak tersakiti.
Masih bisa bertahan
Bila keheningan ini yang mengusikku,
mungkin aku masih bisa mengatasinya,
karena terkadang keheningan ini kuinginkan,
untuk mengusir kepenatan.
Aku tak ingin terbiasa berjalan dalam genangan kesepian,
meski sesekali sang dewi menjelma untuk menyelamatkanku,
tapi aku tak pernah sadar dia datang untuk cinta...
sepertinya...
Apakah kebahagiaan yang sedang kau tawarkan??
bukan itu yang ku minta,
tapi senyum tulus yang lahir dari buah kasihmu...
seperti yang kuceritakan dulu...
Atau kau telah lupa??
jangan membuatku menunggu,
cobalah untuk mengingat-ingat lagi...
mungkin aku masih bisa mengatasinya,
karena terkadang keheningan ini kuinginkan,
untuk mengusir kepenatan.
Aku tak ingin terbiasa berjalan dalam genangan kesepian,
meski sesekali sang dewi menjelma untuk menyelamatkanku,
tapi aku tak pernah sadar dia datang untuk cinta...
sepertinya...
Apakah kebahagiaan yang sedang kau tawarkan??
bukan itu yang ku minta,
tapi senyum tulus yang lahir dari buah kasihmu...
seperti yang kuceritakan dulu...
Atau kau telah lupa??
jangan membuatku menunggu,
cobalah untuk mengingat-ingat lagi...
Mengapa tak kau beritahu aku jika kau telah datang (?)
Mengapa tak kau beritahu aku jika kau telah datang,
seperti pesan yang kukirimkan padamu dikeheningan malam yang pekat,
sebelum aku tertidur dan menemuimu dimimpi-mimpi kita...
Mengapa tak kau beritahu aku jika kau telah datang,
agar aku dapat menyambutmu dengan nyanyian dan tarian cinta,
serta pelukan hangat yang akan membawamu tetap berkelana tanpa harus meninggalkan aku.
Mengapa tak kau beritahu aku jika kau telah datang,
sehingga kau bisa bercerita lebih dulu kepadaku tentang perjalanan panjangmu,
hingga akhirnya kau bisa sampai disini, dalam pelukanku...
seperti pesan yang kukirimkan padamu dikeheningan malam yang pekat,
sebelum aku tertidur dan menemuimu dimimpi-mimpi kita...
Mengapa tak kau beritahu aku jika kau telah datang,
agar aku dapat menyambutmu dengan nyanyian dan tarian cinta,
serta pelukan hangat yang akan membawamu tetap berkelana tanpa harus meninggalkan aku.
Mengapa tak kau beritahu aku jika kau telah datang,
sehingga kau bisa bercerita lebih dulu kepadaku tentang perjalanan panjangmu,
hingga akhirnya kau bisa sampai disini, dalam pelukanku...
Beritahu aku jika ia telah datang...
Beritahu aku jika ia telah datang,
aku berniat membuatkan secangkir cinta manis dari kasih putihku,
cinta yang kuracik dengan asa dan haru biru yang menggelora,
ditambah dengan beberapa tetes peluh pengorbanan.
Beritahu aku jika ia telah datang,
dari pengelanaan cintanya yang panjang,
agar jika aku harus menemuinya nanti,
aku telah siap untuk mempersembahkan cintaku padanya...
Beritahu aku jika ia telah datang,
karena kami masih saling menanti dan mencari...
aku berniat membuatkan secangkir cinta manis dari kasih putihku,
cinta yang kuracik dengan asa dan haru biru yang menggelora,
ditambah dengan beberapa tetes peluh pengorbanan.
Beritahu aku jika ia telah datang,
dari pengelanaan cintanya yang panjang,
agar jika aku harus menemuinya nanti,
aku telah siap untuk mempersembahkan cintaku padanya...
Beritahu aku jika ia telah datang,
karena kami masih saling menanti dan mencari...
Dear: My Soulmate...
Cepatlah kemari kekasihku,
kembali dalam dekap pelukanku,
mengulang kisah yang kita jalani kemarin,
dan memperbaikinya,
dalam hari-hari yang bahagia...
Kekasihku,
aku ingin menatapmu lebih dekat,
tidak dari atas beranda imajinasiku saja,
tapi didekatmu...
sebab aku merindukan semuanya.
Akhir-akhir ini aku sering memikirkanmu..
kadang bayanganmu muncul tepat dihadapanku,
seolah kau sedang mengajakku berbicara,
dan kusambut setiap ajakanmu,
lalu kita berdua larut dalam keintiman.
..tapi hanya kita saja yang mengertinya.
Kekasihku,
jangan pergi lagi,
tetaplah terus bersamaku...
selama-lamanya.
Satu hal yang ingin kusampaikan,
jika suatu hari nanti kau kembali datang,
aku memohon padamu:
tolong sudahi kisah yang belum kau selesaikan padanya..
agar tak ada lagi yang mengganggu.
(Surat ini kutulis ketika aku sedang berjuang melawan kesepian)
6 September 2007
kembali dalam dekap pelukanku,
mengulang kisah yang kita jalani kemarin,
dan memperbaikinya,
dalam hari-hari yang bahagia...
Kekasihku,
aku ingin menatapmu lebih dekat,
tidak dari atas beranda imajinasiku saja,
tapi didekatmu...
sebab aku merindukan semuanya.
Akhir-akhir ini aku sering memikirkanmu..
kadang bayanganmu muncul tepat dihadapanku,
seolah kau sedang mengajakku berbicara,
dan kusambut setiap ajakanmu,
lalu kita berdua larut dalam keintiman.
..tapi hanya kita saja yang mengertinya.
Kekasihku,
jangan pergi lagi,
tetaplah terus bersamaku...
selama-lamanya.
Satu hal yang ingin kusampaikan,
jika suatu hari nanti kau kembali datang,
aku memohon padamu:
tolong sudahi kisah yang belum kau selesaikan padanya..
agar tak ada lagi yang mengganggu.
(Surat ini kutulis ketika aku sedang berjuang melawan kesepian)
6 September 2007
ABCISSION
Desir angin merambat lambat tajam,
menyisir aroma tubuh yang hampir layu,
mereka mudah menemukanmu,
tak usah lari darinya...
Sesekali naik lalu menukik turun perlahan,
kadang tiba-tiba menyebarkan kesedihan,
seperti gurun padang pasir yang sepi..
cobalah raba anginnya!
Menelan buta segala disekelilingnya,
...apapun itu...
semuanya,
tanpa kecuali.
Tak kukira secepat kedip mata sampai padaku,
padahal belum tepat untuk musimnya,
seharusnya gugur daun masih terlampau jauh,
atau jangan pernah datang...
Walau masih ingin menghijau,
menggugur adalah pilihan,
bagai pahlawan?? mungkin saja...
meskipun harus berpisah dengan yang lain,
..(tapi tak jauh),
agar kehidupan terus berlanjut...
menyisir aroma tubuh yang hampir layu,
mereka mudah menemukanmu,
tak usah lari darinya...
Sesekali naik lalu menukik turun perlahan,
kadang tiba-tiba menyebarkan kesedihan,
seperti gurun padang pasir yang sepi..
cobalah raba anginnya!
Menelan buta segala disekelilingnya,
...apapun itu...
semuanya,
tanpa kecuali.
Tak kukira secepat kedip mata sampai padaku,
padahal belum tepat untuk musimnya,
seharusnya gugur daun masih terlampau jauh,
atau jangan pernah datang...
Walau masih ingin menghijau,
menggugur adalah pilihan,
bagai pahlawan?? mungkin saja...
meskipun harus berpisah dengan yang lain,
..(tapi tak jauh),
agar kehidupan terus berlanjut...
Tentang Waktu
Tentang waktu,
yang tak seperti biasanya,
menurutku...
Semua masih terus bertanya padanya,
pada jarum yang tak hentinya berdetak,
dan tak rela menungguku menyiapkan sepotong kejujuran,
di separuh usiaku...
Jam dinding tua itu...
dan penunjuk waktu yang lain,
melekat sebuah kemewaktuan yang mencair,
yang akan selalu jujur pada dunianya.
Tentang waktu,
yang memaksaku berdamai dengan kenyataan,
dan membuatku percaya tentang satu hal,
bahwa setiap waktu adalah permulaan yang berulang...
yang tak seperti biasanya,
menurutku...
Semua masih terus bertanya padanya,
pada jarum yang tak hentinya berdetak,
dan tak rela menungguku menyiapkan sepotong kejujuran,
di separuh usiaku...
Jam dinding tua itu...
dan penunjuk waktu yang lain,
melekat sebuah kemewaktuan yang mencair,
yang akan selalu jujur pada dunianya.
Tentang waktu,
yang memaksaku berdamai dengan kenyataan,
dan membuatku percaya tentang satu hal,
bahwa setiap waktu adalah permulaan yang berulang...
Yang tak kusadari
Hembusan nyala angin tak lagi kering,
hingga kulit luarku mengelupas-kelupas,
dan tenggorokanku harus terbiasa menelan liurku sendiri,
agar dahaga sedikit terpenuhi...
Aku telah sampai pada penjajakan panjang,
meskipun waktu terkadang menertawaiku,
kadang sesekali melempar senyum simpul kecut,
yang dia tujukan bagi pengecut,
harusnya bukan aku...
Sepertinya, aku telah menemukannya..
Tanpa tersesat!
Yang jelas, kurasa belum begitu terlambat untuk memulainya lagi..
hingga kulit luarku mengelupas-kelupas,
dan tenggorokanku harus terbiasa menelan liurku sendiri,
agar dahaga sedikit terpenuhi...
Aku telah sampai pada penjajakan panjang,
meskipun waktu terkadang menertawaiku,
kadang sesekali melempar senyum simpul kecut,
yang dia tujukan bagi pengecut,
harusnya bukan aku...
Sepertinya, aku telah menemukannya..
Tanpa tersesat!
Yang jelas, kurasa belum begitu terlambat untuk memulainya lagi..
Langganan:
Postingan (Atom)
Mahmed Pujangga
Mata Pena Nalar selalu berkisah tentang kita, kehidupan kita, dan hanya kita...