Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, Maret 24, 2011

BERPIHAK KEPADA KAUM WARIA

Muhammad Syaiful*
(04.13 WITA, 22 Maret 2011)

Waria merupakan “produk” ciptaan modernitas adalah sebuah pandangan yang keliru. Hal ini dibuktikan dengan beberapa penjelasan didalam salah satu kitab tertua di Sulawesi Selatan yakni kitab “La ga Ligo”. Kitab tersebut konon merupakan rujukan paling komprehensif untuk memahami sejarah dan kebudayaan klasik manusia Bugis-Makassar. Kitab tersebut beberapa bab diantaranya pada dasarnya berbicara tentang manusia pertama yang mendiami bumi. Diantara cerita tersebut diketahuilah bahwa setelah manusia pertama diturunkan ke dunia tengah (bumi) yakni Batara Guru (dari dunia atas) dan We Nyili’ Timo (dari dunia bawah), diturunkanlah seorang bissu (waria sakti) yang kemudian menemani manusia2 tadi (yang memiliki peran

Minggu, Oktober 18, 2009

PARADIGMA PERILAKU SOSIAL

Teori Pertukaran Sosial dan Pilihan Rasional

“Do ut des”. Saya memberi supaya engkau memberi. Asumsi dasar teori pertukaran ini, menjelaskan hubungan sosial menurut costs and rewards. Pertimbangan untung dan rugi pada teori ini, boleh dianggap memotivasi dan memodifikasi tingkah laku manusia, dalam hubungan sosialnya.

Teori ini telah disinggung oleh beberapa ahli, antara lain:
1. Durkheim (1858-1917), dalam teorinya mengenai solidaritas organis, mengandung suatu proses pertukaran. Pertumbuhan dalam pembagian pekerjaan dan tingkat spesialisasi yang semakin tinggi, mengandung suatu peningkatan dalam besarnya suatu transaksi pertukaran yang terjadi dalam masyarakat. Perilaku kerjasama ini mengandung proses pertukaran.
2. George Simmel (1858-1918), pernah menyatakan bahwa motivasi yang mendorong seseorang berkontak dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan tujuan-tujuan tertentu.

Perkembangan teori pertukaran dimulai dari akarnya, yakni behaviorisme dan

Selasa, Juni 30, 2009

Batas yang mulai memudar

Arus itu mulai kehilangan kendali, setiap apa yang ada di hadapannya akan di lahap tanpa pernah tanggung-tanggung, termasuk kita yang masih berusaha untuk melindungi diri dengan segala kebudayaan yang kita miliki... tapi apakah benar kita telah berusaha? ataukah kita hanya sekedar sedang main-main dengan kehidupan ini... kehidupan yang mana masyarakat sangat membutuhkan kita, namun pada akhirnya kita dengan sengaja menghancurkan masyarakat yang sedang membutuhkan kita...
Gelak tawa hegemoni bukan main telah memaksa kita untuk larut mendengarkannya bernyanyi dan kitapun ikut bernyanyi dalam nyanyian (kelam) yang akan menghantarkan kita pada liang lahat kita sendiri... namun kita cenderung untuk menolak menyadarinya, lalu tetap saja terus hanyut dalam melodi-melodi itu... sesak tiada tara!!! kesadaran hampir memunah.
Globalisasi, modernisasi, bahkan yang kita sebut sebagai budaya populer sebenarnya tidak benar-benar nyata sampai kita membuat mereka nyata di depan kita... mereka adalah mitos-mitos transendental yang kita ciptakan,, taka ada lagi cara untuk memanusiakan manusia... fatalis.
Ada begitu banyak cara untuk mengemudikan diri dalam perahu yang sedang kita kayuh, melewati ombak besar yang akan setiap saat dapat menghantam dari segala penjuru...
Sekedar catatan kecil, kita sedang berperang.. entah melawan apa (siapa), penjelmaannya dapat dengan cepat berubah-ubah tergantung kita pada posisi bagaimana... malahan mungkin saja perang yang sesungguhnya adalah perang melawan diri sendiri yang kita tidak duga, bahwa "self" adalah musuh yang paling nyata bagi diri kita sendiri... bersedia untuk setiap saat merefleksikan diri karena ruang untuk refleksi diri sangat tidak terbatas...
Dalam beragam budaya, kita terlalu sulit untuk mencari identitas kediriannya kita.. atau katakanlah kita malah terjebak dalam lingkaran non-identitas nyata, benarkah demikian? pertanyaan itu akan terjawab ketika hari-hari yang kita rindukan telah lenyap entah kemana! dan ketika kita berusaha untuk mencarinya, perlahan-lahan malah akan menarik kita dan hilang bersamanya...
Cepatlah sadar atau disadarkan sebelum sadar itu dilarang.
Batas itu mulai memudar... antara hitam dan putih menjadi abu-abu, antara atas dan bawah menjadi menggantung, antara baik dan buruk menjadi maklum, antara indah dan jelek menjadi unik... dan antara aku dan kamu menjadi-jadi....

SEKSUALOGIKA

Ketika kita mendengar, seseorang mengeluarkan kata "seks", maka secara umum, asosiasi yang terlintas di benak kita adalah segala hal yang terkait dengan keintiman dan hal-hal yang berbau "mesum". padahal ketika kita mencoba menggali kata tersebut secara ilmiah, maka kita akan menemukan beragam pengertian dalam sudut pandang yang berbeda. katakanlah setidaknya, menurut Jufri (baca buku "seksualitas"), seks dapat di golongkan ke dalam 5 dimensi (biologis, perilaku, budaya, sosial dan gender).
Seperti kita ketahui, beberapa kebudayaan di Indonesia menutup rapat-rapat perbincangan seksualitas. hal ini dikarenakan oleh sistem budaya yang di anut oleh masyarakat yang masih melabelkan seks sebagai sesuatu yang tabu dan "menjijikkan". Kalaupun ada, diskusi mengenai persoalan seks hanya diperuntukkan bagi orang tua, telah menikah dan yang telah dianggap telah dewasa (secara umur). Perbincangannya pun dilakukan secara tertutup dan di dalam ruang yang tak di jangkau oleh publik. Dapat pula kita jumpai cerita tentang seks dalam bentuk lelucon warung kopi atau cerita rakyat (folklor) yang pada akhirnya akan mereduksi pengertian dari seks itu sendiri, sehingga distribusi pengetahuan tentang seks menjadi sangat kabur.
Institusi sekolah juga ikut dalam program "membutakan pengetahuan seks" pada remaja Indonesia yang jelas-jelas sangat membutuhkan pengetahuan tersebut. Tak dapat di pungkiri, para pemikir-pemikir bangsa (dalam hal ini yang berkaitan dengan dunia sekolah) belum cukup berani mengambil keputusan untuk memasukkan mata pelajaran seksualitas ke dalam kurikulu sekolah, tentunya sesuai proporsinya. Betapa tidak, tatkala kita mencoba mendalami pengetahuan remaja tentang seksualitas, adalah suatu kelangkaan ketika mereka akan mampu menjelaskan secara gamblang tentang pengertian seks (bisa di cek kalau tidak percaya). Jangankan remaja, kalangan mahasiswa pun turut menyumbangkan kesesatan berfikir tentang persoalan seksualitas.
Kita menyadari, bahwa masa remaja adalah masa dimana manusia tengah mengalami gejolak jiwa yang teramat. Mereka adalah kaum yang tanpa tanggung-tanggung melakukan apa yang mereka sukai. Belum lagi labilitas yang dialami secara kontinyu akan menghadapkan mereka pada dunia yang serba penuh dengan nuansa ambiguitasnya. Drama glamoritas cinta juga tengah mereka hadapi, serta rasa ingin tahu yang lebih tentang diri dan dunianya akan menambah cerita remaja mereka. Jika demikian logikanya, maka mereka yang tidak mendapatkan pengetahuan seks yang cukup akan berusaha mencari tahu dengan jalan apapun. Pertanyaannya, apakah cara mendapatkan informasi tersebut sudah benar? Kalau sudah benar, tidaka apa-apa, tapi kalau tidak?. Ketika manusia yang tidak berbekal pengetahuan seksual memadai ini memasuki dunia yang -saat ini- serba glamour dan memiliki sejuta 'kenikmatan' seksualitas, maka terjadilah hal-hal yang akan sangat merugikan diri mereka.
Era informasi dan teknologi hari ini sangat tidak terbatas. Kita dapat mengakses apa saja lewat via internet, begitupun informasi tentang seksualitas. Situs-situs porno dapat dengan mudah di buka, belum lagi video dan majalah porno yang di jual bebas tanpa harus melakukan sesuatu yang berbelit-belit (tidak seperti jaman dulu). Nah, kalau sudah begini, remaja yang memiliki jiwa suka coba-coba terhadap hal baru ini cenderung akan mencoba. Entah dengan mengunjungi tempat-tempat "terlarang" ataukah mencari cara agar pacarnya terjerat keinginan yang sama, yakni melakukan intercourse (hubungan kelamin).
Ada banyak data yang menyebutkan bahwa menikah di usia dini adalah hal yang biasa terjadi (baca buku "seksualitas remaja", A.F Syaefuddin). Aborsi pada pasangan yang belum menikah pun menjadi fenomena yang merebak di kalangan manusia yang tak pernah mau lagi berfikir panjang. Hubungan suami istri antara laki-laki dan perempuan yang belum menikah tak dapat lagi di bendung jumlahnya (baca buku "seks in the kost", Bang Iip). Masyarakat ini tidak akan lebih parah lagi ketika kita mau menyadari hal yang akan menghancurkan peradaban kita. Dengan kata lain, ada yang sedang tidak beres dengan kehidupan masyarakat kita.

Mahmed Pujangga

Mata Pena Nalar selalu berkisah tentang kita, kehidupan kita, dan hanya kita...