BAB I
PENDAHULUAN
“mau’ni woroane mua na makkunrai sipa’na, makkunrai-mui; mau’ni makkunrai na woroane sipa’na, woroane-mui...”. (Meskipun dia laki-laki, jika memiliki sifat keperempuanan, dia adalah perempuan; dan perempuan, yang memiliki sifat kelaki-lakian, adalah lelaki). (Sebuah ungkapan bugis).
A. Latar Belakang
Sepanjang sejarah berbagai masyarakat di Kepulauan Nusantara, konstruksi sosial gender senantiasa beraneka ragam, tidak melulu lelaki dan perempuan saja. Individu yang terlahir sebagai lelaki biologis tidak semuanya tunduk pada konstruksi gender lelaki secara sosial-budaya. Mereka memilih atau mengkonstruksi sendiri perilaku dan identitas gendernya, dan masyarakat pun dengan berbagai derajat penerimaan mengenali mereka sebagai banci (Melayu), bandhu (Madura), calabai (Bugis), kawe-kawe (Sulawesi umumnya), wandu (Jawa) dan istilah-istilah lainnya yang belum semuanya dikenali bahkan oleh para peneliti gender dan seksualitas pun, namun memang ada dan dikenali oleh masyarakat setempat. Belum lagi adanya orang-orang yang interseks, yang dalam derajat tertentu memiliki (sebagian) ciri-ciri kelamin biologis lelaki dan/atau perempuan dalam berbagai kombinasi, yang acapkali disebut juga dengan istilah-istilah tadi (Oetomo, 2006:2).
Seperti halnya di dalam kebudayaan masyarakat Sulawesi Selatan (secara umum) dan Makassar (secara khusus), ada orang-orang yang berkonstruksi gender yang tidak sesuai dengan kerangka hegemonik yang ditentukan oleh negara, agama, budaya, bahkan juga ilmu pengetahuan, yang hanya mengakui dua gender, yakni laki-laki dan
adalah sebuah rangkaian catatan-catatan kehidupan yang lahir dari mata pena nalar anak manusia...
Tampilkan postingan dengan label wacana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wacana. Tampilkan semua postingan
Kamis, Oktober 07, 2010
Jumat, April 30, 2010
Waria dan Posisi Dilematisnya di Masyarakat
A. Latar Belakang
Sepanjang sejarah berbagai masyarakat di Kepulauan Nusantara, konstruksi sosial gender senantiasa beraneka ragam, tidak melulu lelaki dan perempuan saja. Individu yang terlahir sebagai lelaki biologis tidak semuanya tunduk pada konstruksi gender lelaki secara sosial-budaya. Mereka memilih atau mengkonstruksi sendiri perilaku dan identitas gendernya, dan masyarakat pun dengan berbagai derajat penerimaan mengenali mereka sebagai banci (Melayu), bandhu (Madura), calabai (Bugis), kawe-kawe (Sulawesi umumnya), wandu (Jawa) dan istilah-istilah lainnya yang belum semuanya dikenali bahkan oleh para peneliti gender dan seksualitas pun
Sepanjang sejarah berbagai masyarakat di Kepulauan Nusantara, konstruksi sosial gender senantiasa beraneka ragam, tidak melulu lelaki dan perempuan saja. Individu yang terlahir sebagai lelaki biologis tidak semuanya tunduk pada konstruksi gender lelaki secara sosial-budaya. Mereka memilih atau mengkonstruksi sendiri perilaku dan identitas gendernya, dan masyarakat pun dengan berbagai derajat penerimaan mengenali mereka sebagai banci (Melayu), bandhu (Madura), calabai (Bugis), kawe-kawe (Sulawesi umumnya), wandu (Jawa) dan istilah-istilah lainnya yang belum semuanya dikenali bahkan oleh para peneliti gender dan seksualitas pun
Label:
dilema,
gender,
seksualitas,
wacana,
waria
Kamis, Desember 24, 2009
Individualisasi dalam Pemikiran Foucault

FOUCAULT adalah fenomena zaman. Kehidupan dan pemikirannya unik dan menarik dicermati tidak hanya dalam satu perspektif. Di samping multiperspektif, dengan membaca Foucault kita juga akan mendapatkan akar pemahaman yang cukup utuh mengenai problem-problem kemanusiaan dewasa ini. Ketekunannya meneliti arsip-arsip klasik mengenai kegilaan, seks, sado-masokisme dan penjara sekaligus keterlibatannya dalam kehidupan nyata para pelaku aktivitas tersebut melahirkan pemikiran besar tentang discourse, pengetahuan, kekuasaan, dan selanjutnya individualisasi yang belum dipikirkan orang sezaman
Label:
diskursus,
filsafat,
seksualitas,
wacana
Langganan:
Postingan (Atom)
Mahmed Pujangga
Mata Pena Nalar selalu berkisah tentang kita, kehidupan kita, dan hanya kita...