Budaya massa sering diperbandingkan dengan budaya tinggi ( high culture ) yang berciri pada produk yang memiliki dua ciri khas. Pertama, diciptakan dan berada di bawah pengawasan elit budaya yang berperan sesuai tradisi estetis, sastra dan ilmu pengetahuan. Kedua standar yang ketat, yang tidak bergantung kepada konsumen produk mereka dan dilaksanakan secara sistematis. Sedangkan budaya massa mengacu kepada pengertian produk budaya yang dicitakan semata-mata untuk pasar. Ciri-ciri lain yang tidak tersurat dalam definisi tersebut adalah standarisasi produk dan perilaku massa dalam penggunaan produk tersebut (Mc.Quail, 1998 : 38 ). Dengan kata lain dalam budaya massa, orientasi produk adalah trend atau mode yang sedang diminati pasar.
Bahkan dalam bukunya yang paling berpengaruh One – Dimensional Man, Marcuse berkeyakinan bahwa dengan adanya kebudayaan massa, aspek progresif dari seni klasik telah dihapus hanya sekedar menjadi industri. Seni hanya menjadi nilai operasional dan keinginanya akan kebahagiaan diganti dengan kebutuhan yang salah atau palsu (false need) dalam masyarakat konsumtif ini. Itulah sebabnya Marcuse, sebagaimana halnya pemikir mahzab Frankfurt (Frankfurt School) lainya seperti Theodore Adorno memandang rendah kebudayaan populer (popular culture) karena sifatnya yang konservatif dan afirmatif. Kebudayaan populer, menurutnya selalu mendamaikan kita dengan kondisi represif dalam masyarakat kapitalis ini (Marwoto, 2001:37).
Menurut Adorno (dalam Storey [ed], 1994:202), karakteristik fundamental dari budaya populer, khususnya musik populer, termasuk di dalamnya musik rock adalah standarisasi (standarization). Karakteriktik yang membedakannya dengan bentuk high culture yang dianggap adiluhung.
Kritik terhadap pemikiran para pemikir Mahzab Frankfurt kemudian banyak berasal dari Center for Contemporary Cultural Studies (CCCS) atau yang kemudian lebih dikenal sebagai Birmingham School yang. Para pemikir dari Mazhab Birmingham menyoroti kegagalan analisa para pemikir Mazhab Frankfurt dalam menganalisis kebudayaan, termasuk media culture dan seni yang dikandungnya. Kegagalan mahzab Frankfurt adalah disebabkan karena mereka melihat segala fenomena dari konteks kapitalisme
adalah sebuah rangkaian catatan-catatan kehidupan yang lahir dari mata pena nalar anak manusia...
Jumat, Juli 01, 2011
Minggu, Juni 12, 2011
JEJAK
Kita pernah berada pada jalan yang sama,
jalan yang dengan sengaja kita lewati,
karena kita punya kerinduan yang sama,
dan kerinduan itu harus tercurahkan!
kebahagiaan...
perasaan yang sudah lama tidak kita temukan pada jalan sebelumnya,
dan sudah seharusnya kita mencari jalan yang lain...
bagiku tak ada yang keliru dengan jalan kita,
hanya saja, orang lain menganggap kita tersesat,
ketika kita memilih untuk menapaki jalan itu,
apalagi, waktunya tidak begitu tepat bagi sebagian orang,
yang juga berharap punya sedikit ruang di jalan yang kita lewati...
tapi kita tak menyisakan apa-apa untuk mereka,
menurutku, itu yang membuat mereka iri pada kita!!
kita begitu menikmati kebahagiaan di jalan ini,
sampai-sampai kita lupa bahwa selain surga, neraka juga ada...
lalu mengapa pada akhirnya kau menyesalinya?
dan memintaku kembali pada jalan yang dahulu tak pernah kita temukan bahagia?
ahh...!! kau terlalu naif membaca perasaanmu...
jalan yang dengan sengaja kita lewati,
karena kita punya kerinduan yang sama,
dan kerinduan itu harus tercurahkan!
kebahagiaan...
perasaan yang sudah lama tidak kita temukan pada jalan sebelumnya,
dan sudah seharusnya kita mencari jalan yang lain...
bagiku tak ada yang keliru dengan jalan kita,
hanya saja, orang lain menganggap kita tersesat,
ketika kita memilih untuk menapaki jalan itu,
apalagi, waktunya tidak begitu tepat bagi sebagian orang,
yang juga berharap punya sedikit ruang di jalan yang kita lewati...
tapi kita tak menyisakan apa-apa untuk mereka,
menurutku, itu yang membuat mereka iri pada kita!!
kita begitu menikmati kebahagiaan di jalan ini,
sampai-sampai kita lupa bahwa selain surga, neraka juga ada...
lalu mengapa pada akhirnya kau menyesalinya?
dan memintaku kembali pada jalan yang dahulu tak pernah kita temukan bahagia?
ahh...!! kau terlalu naif membaca perasaanmu...
Senin, Mei 16, 2011
Dialog SUNNAH - SYIAH
" Bertanyalah engkau pada ahlinya " sungguh benar adanya...
Dibawah ini ada Dialog antara Mahasiswa dengan Ust.Husein Al-Habsyi( Bangil) sewaktu beliau masih hidup. Sengaja saya menampilkan notes ini (yang telah diedit) yang saya dapatkan dari Facebook dengan alamat http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150594230545215...
Untuk teman-teman yang berkenan membaca dan yang sedang mencari-cari tahu lebih jauh tentang Syi'ah, semoga apa yang menjadi pertanyaan bisa sedikit banyak terjawab setelah membaca notes ini...
selamat menikmati, semoga bermanfaat.
Sunnah-Syi’ah dalam dialog antara Mahasiswa UGM, UII Yogyakarta dengan Ustadz Hussein Al-Habsyi
Mahasiswa: Ustadz Husein yang terhormat, kedatangan kami ini bertujuan untuk silaturahmi. Kami rombongan mahasiswa dan Yogya, sebagian kami ini dan Universitas Islam Indonesia dan ada juga dan Universitas Gajah Mada. Kami banyak mendengar tentang Mazhab Syi’ah dan beberapa Ulama yang pernah kami datangi. Tetapi kami belum merasa puas karena masih ada beberapa jawaban yang kurang tepat menurut kami. Sekarang kami minta agar Ustadz menjelaskan masalah Madzhab Syi’ah ini, dan kami telah mempersiapkan beberapa pertanyaan yang kami anggap perlu.
Ustadz Husein: Saudara-saudara mahasiswa dari Yogya, Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuhu. Saya bahagia atas kedatangan saudara-saudara kepada saya, apalagi dengan tujuan yang baik yaitu silaturrahim. Saya bersyukur kehadirat Allah karena saudara-saudara masih mempunyai keinginan untuk mengetahui Sebuah Madzhab, yang selama ini di Indonesia tidak terkenal. Tetapi kemudian setelah dikenal banyak fitnah yang ditujukan kepada Madzhab ini. Namun sayang saudara-saudara, sebab saya sendiri bukan Syi’ah. Jadi sebenarnya lebih tepat bila saudara-saudara terus menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini kepada yang menyatakan bahwa dirinya memang orang Syi’ah.
Pertama: “Benarkah Syi ‘ah itu Kafir?”
Dibawah ini ada Dialog antara Mahasiswa dengan Ust.Husein Al-Habsyi( Bangil) sewaktu beliau masih hidup. Sengaja saya menampilkan notes ini (yang telah diedit) yang saya dapatkan dari Facebook dengan alamat http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150594230545215...
Untuk teman-teman yang berkenan membaca dan yang sedang mencari-cari tahu lebih jauh tentang Syi'ah, semoga apa yang menjadi pertanyaan bisa sedikit banyak terjawab setelah membaca notes ini...
selamat menikmati, semoga bermanfaat.
Sunnah-Syi’ah dalam dialog antara Mahasiswa UGM, UII Yogyakarta dengan Ustadz Hussein Al-Habsyi
Mahasiswa: Ustadz Husein yang terhormat, kedatangan kami ini bertujuan untuk silaturahmi. Kami rombongan mahasiswa dan Yogya, sebagian kami ini dan Universitas Islam Indonesia dan ada juga dan Universitas Gajah Mada. Kami banyak mendengar tentang Mazhab Syi’ah dan beberapa Ulama yang pernah kami datangi. Tetapi kami belum merasa puas karena masih ada beberapa jawaban yang kurang tepat menurut kami. Sekarang kami minta agar Ustadz menjelaskan masalah Madzhab Syi’ah ini, dan kami telah mempersiapkan beberapa pertanyaan yang kami anggap perlu.
Ustadz Husein: Saudara-saudara mahasiswa dari Yogya, Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuhu. Saya bahagia atas kedatangan saudara-saudara kepada saya, apalagi dengan tujuan yang baik yaitu silaturrahim. Saya bersyukur kehadirat Allah karena saudara-saudara masih mempunyai keinginan untuk mengetahui Sebuah Madzhab, yang selama ini di Indonesia tidak terkenal. Tetapi kemudian setelah dikenal banyak fitnah yang ditujukan kepada Madzhab ini. Namun sayang saudara-saudara, sebab saya sendiri bukan Syi’ah. Jadi sebenarnya lebih tepat bila saudara-saudara terus menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini kepada yang menyatakan bahwa dirinya memang orang Syi’ah.
Pertama: “Benarkah Syi ‘ah itu Kafir?”
Sabbe satta bhavantu sukhitata
Selamat Hari Waisak 2555
Di tengah kemegahan istana,
Dikau merasa gundah gulana,
Melihat sakit dan kematian,
Orang tua dan penderitaan...
Ijabi Sulawesi Selatan
Engkau pun pergi menyendiri,
Meninggalkan anak istri,
Menjauhi kemewahan dan harta,
Melepas tahta dan kuasa...
Di bawah pohon Bodhi,
Dikau duduk hening bersamadhi,
Mencari jawab yang maknawi,
Kebahagiaan sejati...
Di tengah kemegahan istana,
Dikau merasa gundah gulana,
Melihat sakit dan kematian,
Orang tua dan penderitaan...
Ijabi Sulawesi Selatan
Engkau pun pergi menyendiri,
Meninggalkan anak istri,
Menjauhi kemewahan dan harta,
Melepas tahta dan kuasa...
Di bawah pohon Bodhi,
Dikau duduk hening bersamadhi,
Mencari jawab yang maknawi,
Kebahagiaan sejati...
Kamis, Maret 24, 2011
BERPIHAK KEPADA KAUM WARIA
Muhammad Syaiful*
(04.13 WITA, 22 Maret 2011)
Waria merupakan “produk” ciptaan modernitas adalah sebuah pandangan yang keliru. Hal ini dibuktikan dengan beberapa penjelasan didalam salah satu kitab tertua di Sulawesi Selatan yakni kitab “La ga Ligo”. Kitab tersebut konon merupakan rujukan paling komprehensif untuk memahami sejarah dan kebudayaan klasik manusia Bugis-Makassar. Kitab tersebut beberapa bab diantaranya pada dasarnya berbicara tentang manusia pertama yang mendiami bumi. Diantara cerita tersebut diketahuilah bahwa setelah manusia pertama diturunkan ke dunia tengah (bumi) yakni Batara Guru (dari dunia atas) dan We Nyili’ Timo (dari dunia bawah), diturunkanlah seorang bissu (waria sakti) yang kemudian menemani manusia2 tadi (yang memiliki peran
(04.13 WITA, 22 Maret 2011)
Waria merupakan “produk” ciptaan modernitas adalah sebuah pandangan yang keliru. Hal ini dibuktikan dengan beberapa penjelasan didalam salah satu kitab tertua di Sulawesi Selatan yakni kitab “La ga Ligo”. Kitab tersebut konon merupakan rujukan paling komprehensif untuk memahami sejarah dan kebudayaan klasik manusia Bugis-Makassar. Kitab tersebut beberapa bab diantaranya pada dasarnya berbicara tentang manusia pertama yang mendiami bumi. Diantara cerita tersebut diketahuilah bahwa setelah manusia pertama diturunkan ke dunia tengah (bumi) yakni Batara Guru (dari dunia atas) dan We Nyili’ Timo (dari dunia bawah), diturunkanlah seorang bissu (waria sakti) yang kemudian menemani manusia2 tadi (yang memiliki peran
Sabtu, Januari 22, 2011
Roman senja di dermaga Popsa
Aku suka senja...
karenanya, aku masih di antara senja....
Aku suka senja...
namun tidak pada hari ini...
Jika kau tahu, hari ini senja terlalu merah dan kelam...
dengan sedikit hujan yang hampir reda...
"Dewi, pernahkah kau tatap baik-baik kedua bola mataku??"
"aku yakin, kau tidak akan pernah bisa membayangkan apa yang akan kau lihat di dalamnya..."
......sedikit pendahuluan dariku...
karenanya, aku masih di antara senja....
Aku suka senja...
namun tidak pada hari ini...
Jika kau tahu, hari ini senja terlalu merah dan kelam...
dengan sedikit hujan yang hampir reda...
"Dewi, pernahkah kau tatap baik-baik kedua bola mataku??"
"aku yakin, kau tidak akan pernah bisa membayangkan apa yang akan kau lihat di dalamnya..."
......sedikit pendahuluan dariku...
Senin, Desember 13, 2010
I always hate november
aku benci november,
aku selalu membencinya...
jika hujan turun,
lalu seketika reda,
pelangi tak penah muncul...
cuma november yang begitu,
tak terjelaskan mengapa,
yang aku tahu, november berani melakukannya...
tidak seperti bulan penghujan yang lain,
november menyatakan sikapnya,
bahwa reda hujan tak selalu identik dengan kehadiran pelangi...
kebencianku terhadap november mewakilkan kebencianku terhadapmu,
ketika kau memutuskan menarik ucapanmu; "kemarin malam adalah malam terindah dalam hidupku"...
lalu kau pun menangis...
itu terjadi di bulan ini,
november....
*suatu malam sebelum kau ucapkan kalimat itu, kita menikmati buaian bulan dan bintang yang tersenyum sambil menyantap es kelapa muda di pantai popsa.. pemuda-pemudi merasa iri pada kita, namun kita tetap berlalu tanpa berfikir apapun...
*pertanyaan terakhirku; air mata itu untuk siapa?!!
aku selalu membencinya...
jika hujan turun,
lalu seketika reda,
pelangi tak penah muncul...
cuma november yang begitu,
tak terjelaskan mengapa,
yang aku tahu, november berani melakukannya...
tidak seperti bulan penghujan yang lain,
november menyatakan sikapnya,
bahwa reda hujan tak selalu identik dengan kehadiran pelangi...
kebencianku terhadap november mewakilkan kebencianku terhadapmu,
ketika kau memutuskan menarik ucapanmu; "kemarin malam adalah malam terindah dalam hidupku"...
lalu kau pun menangis...
itu terjadi di bulan ini,
november....
*suatu malam sebelum kau ucapkan kalimat itu, kita menikmati buaian bulan dan bintang yang tersenyum sambil menyantap es kelapa muda di pantai popsa.. pemuda-pemudi merasa iri pada kita, namun kita tetap berlalu tanpa berfikir apapun...
*pertanyaan terakhirku; air mata itu untuk siapa?!!
Minggu, November 21, 2010
Pelangi November
Awan tak lagi kelabu,
hujan telah berhenti,
sedikit-sedikit matahari mulai mengintip,
namun mengapa pelangi belum menyongsongkan dirinya?
November, oh november...
masihkah langit marah padaku?
lihatlah, aku masih bersabar untukmu kekasihku...
(Pada dia yang memilih...)
hujan telah berhenti,
sedikit-sedikit matahari mulai mengintip,
namun mengapa pelangi belum menyongsongkan dirinya?
November, oh november...
masihkah langit marah padaku?
lihatlah, aku masih bersabar untukmu kekasihku...
(Pada dia yang memilih...)
HANYA KITA YANG TAHU
Sampai saat ini,
hanya kita saja yang tahu,
sebuah kisah tersembunyi,
dalam cerita yang harusnya tak pernah usai...
Adalah secarik kertas di tiap musim berganti,
lewat tinta yang tertorehkan bait per bait,
jujur, beberapa diantaranya berbumbu kebohongan,
menjelma menjadi surat-surat cinta kita...
Surat-surat itulah cerita sesungguhnya,
mengapa harus kita tulis ketika gelap menjadi teman,
ketika semua orang tak menyadari kita sedang terjaga,
ketika kita adalah pemilik sah waktu...
Ada kalanya di satu suratmu,
kau bubuhkan kecupan manis menggoda,
dengan lipstik merah mudamu,
ketika kuminta...
Surat-surat kita mampu bercerita,
bahwa dunia kita begitu indah,
bahwa setiap detik adalah surga,
bahwa ada banyak cinta disini..
dan kebahagiaan adalah suatu kenyataan...
Lalu beberapa musim ini,
suratmu tak pernah lagi datang,
mungkin tersendat di suatu jalan yang tak kita tahu,
atau singgah sejenak di suatu tempat,
temani surat-surat lain yang juga sedang tergesa-gesa untuk tiba...
Terlalu banyak pertanyaan yang mendera,
ada apa gerangan...??
tak biasanya surat-suratmu datang terlambat,
selalu saja tiba di waktu yang telah kita perhitungkan..
Mungkinkah kau tak mau lagi melanjutkan cerita-cerita ini??
apakah skenario cinta obsesif dan posesif telah berakhir??
apakah..........??
argghhh...!! aku benci berfikir begitu...
(Versi lagunya sementara di buat)
hanya kita saja yang tahu,
sebuah kisah tersembunyi,
dalam cerita yang harusnya tak pernah usai...
Adalah secarik kertas di tiap musim berganti,
lewat tinta yang tertorehkan bait per bait,
jujur, beberapa diantaranya berbumbu kebohongan,
menjelma menjadi surat-surat cinta kita...
Surat-surat itulah cerita sesungguhnya,
mengapa harus kita tulis ketika gelap menjadi teman,
ketika semua orang tak menyadari kita sedang terjaga,
ketika kita adalah pemilik sah waktu...
Ada kalanya di satu suratmu,
kau bubuhkan kecupan manis menggoda,
dengan lipstik merah mudamu,
ketika kuminta...
Surat-surat kita mampu bercerita,
bahwa dunia kita begitu indah,
bahwa setiap detik adalah surga,
bahwa ada banyak cinta disini..
dan kebahagiaan adalah suatu kenyataan...
Lalu beberapa musim ini,
suratmu tak pernah lagi datang,
mungkin tersendat di suatu jalan yang tak kita tahu,
atau singgah sejenak di suatu tempat,
temani surat-surat lain yang juga sedang tergesa-gesa untuk tiba...
Terlalu banyak pertanyaan yang mendera,
ada apa gerangan...??
tak biasanya surat-suratmu datang terlambat,
selalu saja tiba di waktu yang telah kita perhitungkan..
Mungkinkah kau tak mau lagi melanjutkan cerita-cerita ini??
apakah skenario cinta obsesif dan posesif telah berakhir??
apakah..........??
argghhh...!! aku benci berfikir begitu...
(Versi lagunya sementara di buat)
TIRAN
Sepasang mata tua masih tegar mengintai,
mengamati perangai para penjagal-penjagal rakus berdasi,
yang lain masih membiarkan dirinya tertidur dengan pasrah,
sebagian lain terjaga namun tak sadar....
Sepasang mata ini tak pernah lelah walau hanya sendiri,
mengenali bau tirani yang melenggak-lenggok tak berhenti,
tak adakah yang berani menghentikannya??
atau karena setiap kita pula adalah tiran-tiran kecil yang tak terjamah mata...
(Ku dedikasikan bagi para pejuang2 muda)
mengamati perangai para penjagal-penjagal rakus berdasi,
yang lain masih membiarkan dirinya tertidur dengan pasrah,
sebagian lain terjaga namun tak sadar....
Sepasang mata ini tak pernah lelah walau hanya sendiri,
mengenali bau tirani yang melenggak-lenggok tak berhenti,
tak adakah yang berani menghentikannya??
atau karena setiap kita pula adalah tiran-tiran kecil yang tak terjamah mata...
(Ku dedikasikan bagi para pejuang2 muda)
Kamis, Oktober 07, 2010
Eksistensi Waria di Makassar
BAB I
PENDAHULUAN
“mau’ni woroane mua na makkunrai sipa’na, makkunrai-mui; mau’ni makkunrai na woroane sipa’na, woroane-mui...”. (Meskipun dia laki-laki, jika memiliki sifat keperempuanan, dia adalah perempuan; dan perempuan, yang memiliki sifat kelaki-lakian, adalah lelaki). (Sebuah ungkapan bugis).
A. Latar Belakang
Sepanjang sejarah berbagai masyarakat di Kepulauan Nusantara, konstruksi sosial gender senantiasa beraneka ragam, tidak melulu lelaki dan perempuan saja. Individu yang terlahir sebagai lelaki biologis tidak semuanya tunduk pada konstruksi gender lelaki secara sosial-budaya. Mereka memilih atau mengkonstruksi sendiri perilaku dan identitas gendernya, dan masyarakat pun dengan berbagai derajat penerimaan mengenali mereka sebagai banci (Melayu), bandhu (Madura), calabai (Bugis), kawe-kawe (Sulawesi umumnya), wandu (Jawa) dan istilah-istilah lainnya yang belum semuanya dikenali bahkan oleh para peneliti gender dan seksualitas pun, namun memang ada dan dikenali oleh masyarakat setempat. Belum lagi adanya orang-orang yang interseks, yang dalam derajat tertentu memiliki (sebagian) ciri-ciri kelamin biologis lelaki dan/atau perempuan dalam berbagai kombinasi, yang acapkali disebut juga dengan istilah-istilah tadi (Oetomo, 2006:2).
Seperti halnya di dalam kebudayaan masyarakat Sulawesi Selatan (secara umum) dan Makassar (secara khusus), ada orang-orang yang berkonstruksi gender yang tidak sesuai dengan kerangka hegemonik yang ditentukan oleh negara, agama, budaya, bahkan juga ilmu pengetahuan, yang hanya mengakui dua gender, yakni laki-laki dan
PENDAHULUAN
“mau’ni woroane mua na makkunrai sipa’na, makkunrai-mui; mau’ni makkunrai na woroane sipa’na, woroane-mui...”. (Meskipun dia laki-laki, jika memiliki sifat keperempuanan, dia adalah perempuan; dan perempuan, yang memiliki sifat kelaki-lakian, adalah lelaki). (Sebuah ungkapan bugis).
A. Latar Belakang
Sepanjang sejarah berbagai masyarakat di Kepulauan Nusantara, konstruksi sosial gender senantiasa beraneka ragam, tidak melulu lelaki dan perempuan saja. Individu yang terlahir sebagai lelaki biologis tidak semuanya tunduk pada konstruksi gender lelaki secara sosial-budaya. Mereka memilih atau mengkonstruksi sendiri perilaku dan identitas gendernya, dan masyarakat pun dengan berbagai derajat penerimaan mengenali mereka sebagai banci (Melayu), bandhu (Madura), calabai (Bugis), kawe-kawe (Sulawesi umumnya), wandu (Jawa) dan istilah-istilah lainnya yang belum semuanya dikenali bahkan oleh para peneliti gender dan seksualitas pun, namun memang ada dan dikenali oleh masyarakat setempat. Belum lagi adanya orang-orang yang interseks, yang dalam derajat tertentu memiliki (sebagian) ciri-ciri kelamin biologis lelaki dan/atau perempuan dalam berbagai kombinasi, yang acapkali disebut juga dengan istilah-istilah tadi (Oetomo, 2006:2).
Seperti halnya di dalam kebudayaan masyarakat Sulawesi Selatan (secara umum) dan Makassar (secara khusus), ada orang-orang yang berkonstruksi gender yang tidak sesuai dengan kerangka hegemonik yang ditentukan oleh negara, agama, budaya, bahkan juga ilmu pengetahuan, yang hanya mengakui dua gender, yakni laki-laki dan
Selasa, Agustus 31, 2010
Kata-kata mutiara Imam Ali
Permulaan kebaikan dipandang ringan, tetapi akhirnya dipandang berat. Hampir-hampir saja pada permulaannya dianggap sekadar menuruti khayalan, bukan pikiran; tetapi pada akhirnya dianggap sebagai buah pikiran, bukan khayalan. Oleh karena itu, dikatakan bahwa memelihara pekerjaan lebih berat dari pada memulainya.
Memulai pekerjaan adalah sunnah, sedangkan memeliharanya adalah wajib.
Jika engkau ingin mengetahui watak seseorang, maka ajaklah dia bertukar pikiran dengan mu. Sebab, dengan bertukar pikiran itu, engkau akan mengetahui kadar keadilan dan ketidakadilannya, kebaikan dan keburukannya.
Duduklah bersama orang-orang bijak, baik mereka itu musuh atau kawan. Sebab, akal bertemu dengan akal.
Sebaik-baik kehidupan adalah yang tidak menguasaimu dan tidak pula mengalihkan perhatiaanmu (dari mengingat Allah SWT).
Tanyailah hati tentang segala perkara karena sesungguhnya ia adalah saksi yang tidak akan menerima suap.
Kecemburuan seorang wanita adalah kekufuran, sedangkan kecemburuan seorang
Memulai pekerjaan adalah sunnah, sedangkan memeliharanya adalah wajib.
Jika engkau ingin mengetahui watak seseorang, maka ajaklah dia bertukar pikiran dengan mu. Sebab, dengan bertukar pikiran itu, engkau akan mengetahui kadar keadilan dan ketidakadilannya, kebaikan dan keburukannya.
Duduklah bersama orang-orang bijak, baik mereka itu musuh atau kawan. Sebab, akal bertemu dengan akal.
Sebaik-baik kehidupan adalah yang tidak menguasaimu dan tidak pula mengalihkan perhatiaanmu (dari mengingat Allah SWT).
Tanyailah hati tentang segala perkara karena sesungguhnya ia adalah saksi yang tidak akan menerima suap.
Kecemburuan seorang wanita adalah kekufuran, sedangkan kecemburuan seorang
Selasa, Agustus 10, 2010
Menyentuh perbedaan
Karena kita asing,
dunia lalu berjarak dengan dirinya,
berseberangan tak terjamah,
sendiri-sendiri berteman cahaya temaram...
Kehilangan tempat berpijak,
rapuh, berdebu, dan akhirnya patah,
ditumpuk sampah-sampah hedonitas,
sebelum kita sempat menyadarinya...
Mau kemana kita (?),
mau berbuat apa kita (?),
sementara kita tak saling mengenal,
karena kita selalu asing...
Terjebak, tersudut, dan terperangkap,
pada kesendirian yang akut,
lalu kita kembali berjarak,
satu sama lain...
jauh....
Senin, Juli 26, 2010
PUISI RANGGA DALAM FILM AADC

PUISI I
Kulari ke hutan kemudian menyanyiku,
kulari ke pantai kemudian teriakku,
sepi… sepi.. dan sendiri aku benci,
aku ingin bingar… aku mau di pasar,
bosan aku dengan penat,
dan enyah saja kau pekat,
seperti berjelaga jika kusendiri...
Pecahkan saja gelasnya biar ramai,
biar mengaduh sampai gaduh,
ada malaikat menyulam jaring laba laba belang di tembok keraton putih,
kenapa tak goyangkan saja loncengnya,
biar terdera,
atau aku harus lari ke hutan belok ke pantai…??
PUISI II
Perempuan datang atas nama cinta,
bunda pergi karena cinta,
dikenangnya air racun jingga dalam wajahmu,
seperti bulan lelap tidur di hatimu,
yang berdinding kelam dan kedinginan...
Ada apa dengannya?
meninggalkan hati untuk di caci,
lalu skali ini aku lihat karya surga dari mata seorang hawa...
Ada apa dengan cinta?
tapi aku pasti akan kembali dalam satu purnama,
untuk mempertanyakan kembali cintanya,
bukan untuknya,
bukan untuk siapa,
tapi untukku,
karna aku ingin kamu,
itu saja.
Label:
ada apa dengan cinta,
puisi,
rangga
Rabu, Mei 26, 2010
Hermeneutik Modern
HERMENEUTIK MODERN,
DARI SAKUTARO KE KUNTOWIJOYO
Apabila kita berbicara tentang teori sastra, khususnya pada masa sekarang ini, selalu yang muncul dalam kepala kita ialah teori yang muncul dan hanya berkembang di Barat. Seakan-akan hanya teori para pakar Barat sajalah yang relevan dan tepat guna dalam menyusun berbagai bentuk kritik sastra dan memahami gejala-gejala sastra. Sering kita lupa bahwa tidak semua teori dari Barat itu siap pakai dan bisa bekerja dengan baik dalam menghadapi gejala-gejala sastra yang timbul di Asia, atau di Indonesia pada khususnya. Hal ini disebabkan karena kita kurang menyadari bahwa di belakang teori itu ialah pemikiran dan pandangan hidup yang tengah berkembang di Barat, yang berbeda dengan pemikiran dan pandangan hidup yang tengah berkembang di negeri kita.
DARI SAKUTARO KE KUNTOWIJOYO
Apabila kita berbicara tentang teori sastra, khususnya pada masa sekarang ini, selalu yang muncul dalam kepala kita ialah teori yang muncul dan hanya berkembang di Barat. Seakan-akan hanya teori para pakar Barat sajalah yang relevan dan tepat guna dalam menyusun berbagai bentuk kritik sastra dan memahami gejala-gejala sastra. Sering kita lupa bahwa tidak semua teori dari Barat itu siap pakai dan bisa bekerja dengan baik dalam menghadapi gejala-gejala sastra yang timbul di Asia, atau di Indonesia pada khususnya. Hal ini disebabkan karena kita kurang menyadari bahwa di belakang teori itu ialah pemikiran dan pandangan hidup yang tengah berkembang di Barat, yang berbeda dengan pemikiran dan pandangan hidup yang tengah berkembang di negeri kita.
Label:
bahasa,
filsafat,
hermeneutik,
sastra
Jumat, April 30, 2010
Pendekatan Efektif Dalam Proses Negosiasi
Selama ini analisis tentang proses negosiasi umumnya menggunakan 2 pendekatan utama, game theory yang juga dikenal dengan teori strategis dan behavioral negotiation theory. Dalam perkembangannya, banyak akademisi meneliti masalah-masalah yang berkaitan dengan bargaining sehingga kemudian game theory ini berkembang menjadi teori negosiasi strategis (strategic-negotiation theory) dimana strategi waktu, institusi, informasi dan komitmen menjadi hal yang menentukan di dalamnya. Dalam hal ini strategic-negotiation theory fokus pada pembandingan antara perilaku ekuilibrium dan perilaku efisiensi
Pengantar Ilmu Negosiasi
Negosiasi merupakan kosakata yang sudah sering kita dengar. Negosiasi merupakan proses yang sering sekali kita lakukan dalam hidup dan sering pula kita tidak sadar kalau kita tengah melakukan negosiasi. Untuk itu, perlu terlebih dahulu dijelaskan mengenai apa pengertian dari negosiasi berdasarkan kamus hukum dan beberapa pendapat ahli, yaitu sebagai berikut
Mind, Soul and Spirit
Tak bersayap, tak berakal...
terbang tinggi, riuh rendah, atau tenggelam...
namun tak mati...
setahuku, itu yang kau percaya!
terbang tinggi, riuh rendah, atau tenggelam...
namun tak mati...
setahuku, itu yang kau percaya!
Coretan2 Luka
Season I
1. Pada akhirnya semua akan terbiasa melaluinya,
dan kita hanya akan kembali pada satu titik yangg sejajar..
2. Setiap keberakhiran adalah awal keberadaan,
dan keberakhiran selalu ditemukan di awal keberadaan..
3.Tak ada yang abadi..
Tak ada yang kekal..
Semua keberadaan pasti akan musnah..
4.Jika semua keberadaan pasti akan musnah, maka keberadaan adalah tidak kekal dan abadi..
Bagaimana dengan pemilik keberadaan? Bukankah DIA-pun ADA.
Season II
1. Kebohongan mampu membunuh lebih cepat dari bisa ular!
Dusta membuat tangisan mengalirkan tangis yang teramat sangat deras,
dan pada akhirnya air mata akan berganti darah!
2.Lalu suatu saat kau akan membayar kebohongan itu!!!
3.Pada satu waktu...
dikehidupanku yang lain,
aku menjelma menjadi sang lain,
dan aku akan terus menerus mengejarmu,
hingga kau tak sanggup lagi untuk berlari.
4.Jika telah tiba saat itu, kau akan memohon padaku,
untuk segera membunuhmu, dengan cara yang sama!
Season III
1.Bila perlu,
akan kuminta satu tempat untuk kita berdua di neraka!
hanya kita berdua..
2.Agar kita tak mengotori surga karena dendam-dendam kita yang kini telah bernanah.
Season IV
1.Kita tahu, jalan pintas menuju surga adalah melewati neraka!
2.Karena surga adalah tujuan kita.
Sayang terbuang (lagi miskin ide untuk menulis note... hehehe)
1. Pada akhirnya semua akan terbiasa melaluinya,
dan kita hanya akan kembali pada satu titik yangg sejajar..
2. Setiap keberakhiran adalah awal keberadaan,
dan keberakhiran selalu ditemukan di awal keberadaan..
3.Tak ada yang abadi..
Tak ada yang kekal..
Semua keberadaan pasti akan musnah..
4.Jika semua keberadaan pasti akan musnah, maka keberadaan adalah tidak kekal dan abadi..
Bagaimana dengan pemilik keberadaan? Bukankah DIA-pun ADA.
Season II
1. Kebohongan mampu membunuh lebih cepat dari bisa ular!
Dusta membuat tangisan mengalirkan tangis yang teramat sangat deras,
dan pada akhirnya air mata akan berganti darah!
2.Lalu suatu saat kau akan membayar kebohongan itu!!!
3.Pada satu waktu...
dikehidupanku yang lain,
aku menjelma menjadi sang lain,
dan aku akan terus menerus mengejarmu,
hingga kau tak sanggup lagi untuk berlari.
4.Jika telah tiba saat itu, kau akan memohon padaku,
untuk segera membunuhmu, dengan cara yang sama!
Season III
1.Bila perlu,
akan kuminta satu tempat untuk kita berdua di neraka!
hanya kita berdua..
2.Agar kita tak mengotori surga karena dendam-dendam kita yang kini telah bernanah.
Season IV
1.Kita tahu, jalan pintas menuju surga adalah melewati neraka!
2.Karena surga adalah tujuan kita.
Sayang terbuang (lagi miskin ide untuk menulis note... hehehe)
Waria dan Posisi Dilematisnya di Masyarakat
A. Latar Belakang
Sepanjang sejarah berbagai masyarakat di Kepulauan Nusantara, konstruksi sosial gender senantiasa beraneka ragam, tidak melulu lelaki dan perempuan saja. Individu yang terlahir sebagai lelaki biologis tidak semuanya tunduk pada konstruksi gender lelaki secara sosial-budaya. Mereka memilih atau mengkonstruksi sendiri perilaku dan identitas gendernya, dan masyarakat pun dengan berbagai derajat penerimaan mengenali mereka sebagai banci (Melayu), bandhu (Madura), calabai (Bugis), kawe-kawe (Sulawesi umumnya), wandu (Jawa) dan istilah-istilah lainnya yang belum semuanya dikenali bahkan oleh para peneliti gender dan seksualitas pun
Sepanjang sejarah berbagai masyarakat di Kepulauan Nusantara, konstruksi sosial gender senantiasa beraneka ragam, tidak melulu lelaki dan perempuan saja. Individu yang terlahir sebagai lelaki biologis tidak semuanya tunduk pada konstruksi gender lelaki secara sosial-budaya. Mereka memilih atau mengkonstruksi sendiri perilaku dan identitas gendernya, dan masyarakat pun dengan berbagai derajat penerimaan mengenali mereka sebagai banci (Melayu), bandhu (Madura), calabai (Bugis), kawe-kawe (Sulawesi umumnya), wandu (Jawa) dan istilah-istilah lainnya yang belum semuanya dikenali bahkan oleh para peneliti gender dan seksualitas pun
Label:
dilema,
gender,
seksualitas,
wacana,
waria
Langganan:
Postingan (Atom)
Mahmed Pujangga
Mata Pena Nalar selalu berkisah tentang kita, kehidupan kita, dan hanya kita...